Wednesday, May 27, 2009

empat lantai jatuh.

mencari mu berhenti seakan nafas ini dingin menusuk jantung hati
tidak kudengar siulanmu sore bersama kicauan tertawa manusia
melalui tempat biasa biarkan aku berdiri nantikan langkah itu kembali
benak seketika terendam malam hiaskan kesunyian sejenak

aku pun tutup janji hati demi bunuh waktu semakin kuingin sentuh matamu
tak bisa mampu tidak terbalas keinginanpun jadi serbuk api
siapa hati bila hanya polanya tidak terpisahkan limapuluh tujuh jam oleh karena
bibir manis di malam minggu panas nya matahari sejenak

seperti miliku. ternyata awan bergantian ambil pagi
sementara kau pun akhirnya pergi.

No comments:

Post a Comment